Part 3
Aku dan kedua adikku (SaxonBlaze sama Madness Hunter) pergi ke tempat
tinggal kedua adikku.Diperjalanan kami bertiga diam tanpa sepatah
katapun diucapkan.Sesampainya di rumah kedua adikku,aku kagum sebab
mereka berdua menata ruangan rumah dengan sangat rapi.
"Hmmm Vladimir,bisa kau tunjukkan kamar kaka?",tanyaku.
"Hmmm silahkan ikut aku kak",kata Vladimir.
Aku mengikuti Vladimir dan sampai di sebuah kamar.
"Silahkan kak,maaf kamar ini belum dibersihkan",kata Vladimir.
"Hmmm,ya sudah tidak apa,biar kaka saja yang bersihkan sendiri",kataku.
"Baiklah,oh iya kak,aku pergi menyiapkan makanan dulu ya",kata Vladimir.
"Bisa masak?",kataku sedikit mengejek.
"Bisalah",katanya dan pergi meninggalkanku ke dapur.
"Hmmm baiklah walaupun aku lelah tapi apa boleh buat,aku bersihkan saja sekarang",pikirku.
"Hmm tapi aku butuh sapu,pel dan alat lainnya.Aku tanya saja ke Vladimir",pikirku dan pergi ke arah dapur.
"Vladimir,Vladimir kaka butuh sapu,pel dan peralatan lainya untuk membersihkan kamar",kataku ke Vladimir.
"Kau bisa tanya ke Nikita,kak",kata Vladimir yang kelihatan sibuk.
"Baiklah",kataku.
Aku berjalan ke kamar Nikita.
"Knock...knock...Nikita apa kaka boleh masuk?",tanyaku ke Nikita yang ada di dalam kamar.
"Iya silahkan ka,pintunya tidak kukunci",kata Nikita.
Aku membuka pintu dan memasuki kamar Nikita tapi Nikita tidak ada di kamarnya.
"Nikita....Nikita dimana kau?",kataku.
"Hmmm aku cari saja peralatannya di lemarinya",pikirku.
Aku berjalan ke arah lemari,pada saat aku mbuka lemari Nikita mengagetkanku.
"Aduh
Nikita kamu...",kata-kataku terputus karena mengagumi kecantikan adikku
ini yang tengah memakai tank top garis biru-putih dan celana pendek.
"Ada apa kak?",kata Nikita.
"Uh...tidak.Ummm...kaka hanya ingin menanyakan dimana sapu,pel dan peralatan untuk membersihkan kamar",kataku.
"Oh itu,itu ada disana,di gudang bawah tanah",kata Nikita sambol menunjuk ke arah pintu di ruang tamu.
"Umm...baiklah,terima kasih",kataku.
"Iya sama-sama kak",katanya.
Nikita
terlihat manis sekali memakai pakaian itu.Aku berjalan ke arah pintu
ruang bawah tanah.Aku membukanya dan menyalakan lampu.
"Hmmm...cukup bersih",pikirku.
Aku
mengambil sapu,pel dan peralatan yang aku butuhkan.Aku naik ke atas dan
langsung pergi ke kamarku.Aku langsung membersihkan kamarku secepat
mungkin.
"Bretek...akhirnya selesai juga",kataku sendiri sambil berjalan ke arah gudang lagi.
"Kak,ayo makan malam bersama kami",kata Nikita.
"Eh iya iya",kataku.
Aku segera meletakan segala peralatan yang aku ambil dan langsung mencuci tangan di dapur.Setelah itu aku pergi ke ruang makan.
"Wah sepertinya enak",kataku.
"Ah akhirnya kaka datang juga,silahkan duduk kak",kata Vladimir.
Aku duduk dan makan bersama kedua adikku.Saat aku ingin selesai tiba-tiba saja ada yang melempar pisau ke arah kita bertiga,karena reflek kami bertiga bagus jadi kami bertiga dapat menghindari pisau-pisau itu.
"Sial,siapa yang melempar pisau itu?!",kataku.
"Hehehe...reflek kalian bagus juga",kata seorang laki-laki bertopeng yang muncul dari jendela.
"Siapa kau?!",kata Vladimir.
"The Caller",kataku.
"Apa kau mengenalku?Hehehe...sepertinya aku sangat terkenal ya hahaha",kata The Caller.
"Apa kau mengenalnya kak?",tanya Nikita.
"Dia adalah buronan negara",kataku."Proxy,ini sangat berbahaya",kataku dalam hati.
"Mau apa kau disini?",tanyaku.
"Aku
hanya ingin membalas dendamku,kau masih ingat saat kau
mengalahkanku?"(Kalo mau tau nanti ada di cerita The Caller),katanya.
"Sial ini pasti merepotkan!",kataku dalam hati.
Tiba-tiba Nikita dan Vladimir pingsan.
"Hey
Nikita,Vladimir ada apa...?",saat mengatakan itu tiba-tiba The Caller
menyerangku,tapi aku bisa menghindarinya karena reflekku yang bagus.
"Cih,senjataku masih di dalam kamar,sial...",kataku dalam hati.
"Ada apa?Apa kau terkejut?",katanya sambil menyerangku dengan Dual Combat Knifenya.
Aku menghindar sambil mencari akal untuk mengambil senjataku.Aku terus menghindar dan menghindar.
"Hey kau ayo lah jangan menghindar terus,dasar investigator payah",katanya sambil terus menyerang.
Kali ini saat dia menyerangku,aku menendang pisaunya hingga terpental ke belakang,dia pun terkejut saat pisaunya terpental.
"Saatnya...",kataku dan langsung mentakelnya.
Diapun
jatuh dan aku langsung berlari ke kamar dan mengambil Dual Katana ku
dan pistol Five Sevenku.Saat kembali ke The Caller aku melihat dia
sedang mengambil pisaunya.Akupun mendekatinya dengan kecepatan penuh dan
langsung menodongkan salah satu katanaku padanya.
"Jangan bergerak atau kau mati",kataku.
"Hehehe",dia hanya tertawa.
Tiba-tiba dia sudah berada di belakangku dan langsung menancapkan pisaunya ke bahuku.
"ARGHHH!!!",teriakku kesakitan."Sial..!",kataku.
"Hahaha sekarang lihat siapa yang tidak berdaya sekarang hah?",katanya.
"Sialan kau!!!",kataku dan langsung bangkit dan menebas lengan kirinya.
"Argh...hahahaha",dia masih tetap tertawa walau dalam keadaan seperti itu.
"Sial",kataku yang masih kesakitan.
"Rasa ini adalah rasa yang luar biasa hahahaha",katanya.
"Dasar gila!!",kataku.
Sesaat setelah aku mengatakan itu,dia langsung menendangku sehingga aku terpental menembus tembok rumah kedua adikku.
"Argh...sial",kataku sambil memuntahkan darah.
"Bagaimana hah?Apa kau menikmatinya?Hahahaha",katanya.
Tiba-tiba ada sebuah batu yang dilemparkan ke arah The Caller.
"Beauty Boy!!!",kataku.
Bersambung...